Beranda > Uncategorized > DASAR-DASAR QUR’ANI DAN HADIST TENTANG TASAWUF

DASAR-DASAR QUR’ANI DAN HADIST TENTANG TASAWUF

BAB I

PENDAHULUAN

Apabila kita melihat zaman sekarang banyak orang-orang yang mengejar kemewahan dunia, dan berlebih-lebihan dalam mencintai keindahan dunia seolah-olah akan hidup selamanya di dunia ini. Namun, pada akhirnya mereka menyesal setelah mendapat suatu musibah dan banyak yang sadar karena kesenangan dunia itu tidak bisa membuat orang tenang dan tentram. Dengan demikian mereka mancari ketenangan dan kedamaian yang dibutuhkan oleh sentuhan-sentuhan spiritual atau rohani yang bisa diperoleh dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Dalam makalah ini penulis mencoba membahas sedikit tentang dasar atau landasan-landasan yang sering digunakan oleh para sufi dalam bertasawuf. Landasan Al-Qur’an dan Hadist merupakan acuan pokok yang selalu dijadikan oleh umat Islam untuk berbuat dan bertindak.

Dalam penulisan makalah ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan, sebagai manusia biasa yang  tidak pernah luput dari salah dan lupa, makalah ini juga belum bisa dikatakan sempurna. Oleh sebab itu, pemakalah meminta kepada Bapak Dosen dan rekan-rekan mahasiswa agar memberikan kritik dan saran agar makalah ini nanti lebih baik dan sempurna bahasannya.

Atas kritik dan saran-saran yang diberikan Bapak Dosen ataupun rekan-rekan mahasiswa, pemakalah lebih dulu mengucapkan terima kasih banyak, sehingga makalah ini nanti bisa lebih bagus.

BAB II

PERMASALAHAN

Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari kita sering mendengar pertanyaan-pertanyaan yang meminta atas landasan atau dasar apa kita berbuat sesuatu. Ataupun langsung orang lain bertanya kepada kita apa dasar al-Qur’an dan hadistnya anda berkata demikian? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering dilontarkan kepada kita ketika orang itu menerima atau menemukan persoalan-persoalan yang baru atau persoalan-persoalan yang unik yang mereka temui.

Oleh sebab itu landasan atau dasar-dasar tasawuf dalam Al-Qur’an dan Hadis urgen untuk dibahas. Karena tanpa kajian yang khusus kita tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena masa modern ini kita harus lebih banyak mengkaji dan berpegang kepada Al-Qur’an dan Hadis yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad sebagai pedoman bagi kita supaya kita tidak terbawa arus globalisasi yang semakin merajalela ini.

BAB III

PEMBAHASAN

  1. A. Pengertian Tasawuf

Secara etimologi, pengertian tasawuf dapat dilihat menjadi beberapa macam pengertian, yaitu ;

  1. 1. Ahlu suffah (         ), yang berarti sekelompok orang dimasa Rasulullah yang hidupnya banyak berdiam diserambi-serambi mesjid, dan mereka mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah.
  2. 2. Safa (      ), orang-orang yang mensucikan dirinya dihadapan Tuhan-Nya.
    1. 3. Shaf (     ), orang-orang yang ketika shalat selalau berada di shaf yang paling depan.
    2. 4. Shuf (      ), yang berarti bulu domba atau wool.

Secara terminologi, telah banyak dirumuskan oleh para ahli, yaitu :

  1. Menurut Juhairi, ketika ditanya tentang tasawuf, lalu ia menjawab :

“Memasuki segala budi (akhlak) yang bersifat sunni dan keluar dari budi pekerti yang rendah”.

  1. Menurut Junaidi :

“Tasawuf ialah bahwa yang Hak adalah yang mematikanmu, dan Hak-lah yang menghidupkanmu”.

  1. Menurut Abu Hamzah :

“Tanda sufi yang benar adalah berfakir setelah dia kaya, merendahkan diri setelah dia bermegah-megahan, menyembunyikan diri setelah dia terkenal: dan tanda sufi palsu adalah kaya setelah dia fakir, bermegah-megahan setelah dia hina dan tersohor setelah ia tersembunyi”.

  1. B. DASAR-DASAR QUR’ANI DAN HADIST TENTANG

ILMU TASAWUF

Al-Qur’an merupakan kitab Allah yang didalamnya terkandung muatan-muatan ajaran Islam, baik akidah, syarah maupun muamalah. Ketiga muatan tersebut banyak tercermin dalam ayat-ayat yang termaktub dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat Al-Qur’an di satu sisi memang ada yang perlu dipahami secara konstektual-rohaniah. Jika dipahami secara lahiriah saja, ayat-ayat Al-Qur’an akan terasa kaku, kurang dinamis, dan tidak mustahil akan ditemukan persoalan yang tidak dapat diterima secara psikis.

Secara umum ajaran Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Pemahaman terhadap unsur kehidupan yang bersifat batiniah pada gilirannya nanti melahirkan tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah serta praktik kehidupan Nabi dan para sahabatnya.[1]

  1. Ayat Al-Qur’an tentang tasawuf secara eksplisit

Makna eksplisit adalah makna absolut yang langsung diacu oleh bahasa. Konsep makna ini bersifat denotatif  (sebenarnya)  sebagai representasi dari bahasa kognitif. Eksplisit : makna/maksud diajukan secara langsung dan jelas
Makna eksplisit mengacu pada informasi, sedangkan makna implisit mengacu pada emosi.[2]

  1. Dalam Q.S. Al-Maidah ayat : 54

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä `tB £‰s?ötƒ öNä3YÏB `tã ¾ÏmÏZƒÏŠ t$öq|¡sù ’ÎAù’tƒ ª!$# 5Qöqs)Î/ öNåk™:Ïtä† ÿ¼çmtRq™6Ïtä†ur A’©!όr& ’n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$# >o¨“Ïãr& ’n?tã tûï͍Ïÿ»s3ø9$# šcr߉Îg»pgä† ’Îû È@‹Î6y™ «!$# Ÿwur tbqèù$sƒs† sptBöqs9 5OͬIw 4 y7Ï9ºsŒ ã@ôÒsù «!$# ÏmŠÏ?÷sム`tB âä!$t±o„ 4 ª!$#ur ììřºur íOŠÎ=tæ ÇÎÍÈ

Artinya ; “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”.

Berdasarkan dasar Al-Qur’an tentang tasawuf  secara eksplisit,  di atas memiliki ciri-ciri yaitu :

1)      Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah.

2)      Bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir.

Sifat ini merupakan hasil kecintaan kepada Allah. Seorang yang cinta kepada Allah akan menjadi seorang  yang arif bijaksana yang akan selalu gembira dan senyum, bersikap lemah lembut karena jiwanya dipenuhi oleh sifat Allah yang paling dominan yaitu rahmat dan kasih sayang. Inilah yang menghasilkan rasa persaudaraan seagama, yang menjadikannya bersikap toleran terhadap kesalahannya, lemah lembut dalam sikap dan perilakunya termasuk ketika menegur  atau menasehatinya. Sikap ini yang mengantar seorang muslim merasakan derita saudaranya, sehingga memenuhi kebutuhannya dan melapangkan kesulitannya. Sedang sikap tegas kepada orang-orang kafir, bukan berarti memusuhi pribadinya, atau memaksakan mereka memeluk islam, atau merusak tempat ibadah dan menghalangi mereka melaksanakan tuntutan agama dan kepercayaan mereka tetapi bersikap tegas, terhadap permusuhan mereka, atau upaya-upaya mereka melecehkan ajaran agama dan kaum muslimin.

3)      Mereka berjihad di jalan Allah

Jihad disini tidak terbatas dalam bentuk mengangkat senjata, tetapi termasuk upaya-upaya membela islam dan memperkaya peradabannya dengan lisan dan tulisan, sambil menjelaskan ajaran islam dan menangkal ide-ide yang bertentangan dengannya lebih-lebih yang memburukannya.

4)      Tidak takut kepada celaan pencela

Mereka tidak takut dicela bahwa mereka tidak toleran misalnya jika mereka bersikap tegas terhadap orang kafir yang memusuhi islam, tidak juga khawatir dituduh fanatik atau fundamentalis jika menegakkan ukhwah islamiyah.[3]

  1. Bahwa kemungkinan manusia dapat saling mencintai (mahabbah) dengan Tuhan. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam Al-Qur’an dalam surah al-Maidah ayat 54 yakni:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä `tB £‰s?ötƒ öNä3YÏB `tã ¾ÏmÏZƒÏŠ t$öq|¡sù ’ÎAù’tƒ ª!$# 5Qöqs)Î/ öNåk™:Ïtä† ÿ¼çmtRq™6Ïtä†ur A’©!όr& ’n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$# >o¨“Ïãr& ’n?tã tûï͍Ïÿ»s3ø9$# šcr߉Îg»pgä† ’Îû È@‹Î6y™ «!$# Ÿwur tbqèù$sƒs† sptBöqs9 5OͬIw 4 y7Ï9ºsŒ ã@ôÒsù «!$# ÏmŠÏ?÷sム`tB âä!$t±o„ 4 ª!$#ur ììřºur íOŠÎ=tæ ÇÎÍÈ

Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir yang berjihad dijalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha halus (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. [4]

Dari ayat diatas para ahli sufi menafsirkannya bahwa akan datang suatu kaum yang dicintai Allah dan mereka juga mencintai Allah, sebagaimana yang tercantum didalam Tafsir al-Misbah karangan Quraish Shihab bahwa Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Allah. Cinta Allah kepada hamba-Nya dipahami para mufassir dalam arti limpahan kebaikan dan anugerah-Nya. Cinta Allah dan karunianya tidak terbatas dan cinta manusia kepada Allah bertingkat-bertingkat, tetapi yang jelas adalah cinta kepada-Nya merupakan dasar dan prinsip perjalanan menuju Allah, sehingga semua peringkat (maqam) dapat mengalami kehancuran kecuali cinta. Cinta tidak bisa hancur dalam keadaan apapun selama jalan menuju Allah tetap ditelusuri.[5]

  1. Bahwa Allah memerintahkan manusia agar senantiasa bertaubat membersihkan diri dan memohan ampunan kepada-Nya sehingga memperoleh cahaya dari-Nya.Hal ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an surah at-Tahrim ayat 8 yaitu:

$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqç/qè? ’n<Î) «!$# Zpt/öqs? %·nqÝÁ¯R 4Ó|¤tã öNä3š/u‘ br& tÏeÿs3ムöNä3Ytã öNä3Ï?$t«Íh‹y™ öNà6n=Åzô‰ãƒur ;M»¨Zy_ “̍øgrB `ÏB $ygÏFøtrB ㍻yg÷RF{$# tPöqtƒ Ÿw “Ì“øƒä† ª!$# ¢ÓÉ<¨Z9$# z`ƒÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä ¼çmyètB ( öNèdâ‘qçR 4Ótëó¡o„ šú÷üt/ öNÍk‰É‰÷ƒr& öNÍkÈ]»yJ÷ƒr’Î/ur tbqä9qà)tƒ !$uZ­/u‘ öNÏJø?r& $uZs9 $tRu‘qçR öÏÿøî$#ur !$uZs9 ( y7¨RÎ) 4’n?tã Èe@à2 &äóÓx« ֍ƒÏ‰s% ÇÑÈ

Artinya     :   ”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang beriman bersama dengan dia ; sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan,”Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami ; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [6]

Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa seseorang yang bertasawuf harus bertaubat lebih dulu untuk menghapus segala kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya. Para sufi berpendapat bahwa untuk mencari keridhaan Allah harus bertaubat lebih dahulu dan meninggalkan segala yang menyangkut dengan kebendaan (dunia) dan menghiasinya dengan akhlak mahmudah, dengan demikian kita bisa menuju keridhaan Allah SWT.

Dalam tasawuf kata taubat berasal dari kata taaba-yatubu-taubatan yang artinya kembali. Sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rahmat dari kitab Manaajil Al-saairin bahwa taubat adalah maqam yang kedua. Sedangkan maqam yang pertama adalah yaqzhah atau kesadaran. Dalam yaqzhah itu, kita tiba-tiba disadarkan oleh Allah SWT akan keburukan-keburukan yang pernah kita lakukan selama kejauhan kita dari Allah SWT. Bisa jadi kita disadarkan dengan satu musibah yang menimpa kita atau nasihat orang lain dan perenungan kita sendiri. Allah mempunyai cara untuk menyadarkan hamba-Nya. Tetapi dalam tasawuf bahkan menurut Al-Qur’an orang lebih banyak disadarkan oleh musibah.[7]

  1. Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an tentang pertemuan manusia dengan Allah sebagaimana yang tercantum dalam surah al-Baqarah ayat 115 yaitu :

¬!ur ä-̍ô±pRùQ$# Ü>̍øópRùQ$#ur 4 $yJuZ÷ƒr’sù (#q—9uqè? §NsVsù çmô_ur «!$# 4 žcÎ) ©!$# ììřºur ÒOŠÎ=tæ ÇÊÊÎÈ

Artinya     :  ”Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”[8]

Bagi kaum sufi ayat tersebut mengandung arti bahwa dimana Tuhan ada, di situ pula Tuhan dapat dijumpai.[9] Maksudnya kapanpun dan dimanapun kita berada Allah selalu bersama kita karena dzat-Nya tidak dibatasi ruang dan waktu dan tidak pula dibatasi oleh tempat.

  1. Dalam Al-Qur’an juga dijelaskan tentang kedekatan manusia dengan-Nya seperti yang tercantum dalam surah al-Baqarah ayat 186 yaitu:

#sŒÎ)ur y7s9r’y™ “ÏŠ$t6Ïã ÓÍh_t㠒ÎoTÎ*sù ë=ƒÌs% ( Ü=‹Å_é& nouqôãyŠ Æí#¤$!$# #sŒÎ) Èb$tãyŠ ( (#qç6‹ÉftGó¡uŠù=sù ’Í< (#qãZÏB÷sã‹ø9ur ’Î1 öNßg¯=yès9 šcr߉ä©ötƒ ÇÊÑÏÈ

Artinya     :  ”Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, Aku adalah dekat, Aku mengabulkan seruan orang yang memanggil jika ia panggil Aku.” [10]

  1. Dalam surah Qaf ayat 16 juga disebutkan yaitu:

ô‰s)s9ur $uZø)n=yz z`»|¡SM}$# ÞOn=÷ètRur $tB â¨Èqó™uqè? ¾ÏmÎ/ ¼çmÝ¡øÿtR ( ß`øtwUur Ü>tø%r& Ïmø‹s9Î) ô`ÏB È@ö7ym ωƒÍ‘uqø9$# ÇÊÏÈ

Artinya     :   “Sebenarnya Kami ciptakan manusia dan Kami tahu apa yang dibisikkannya kepadanya, Kami lebih dekat kepadanya daripada pembuluh darahnya sendiri.” [11]

Berdasarkan ayat tersebut kebanyakan dikalangan para sufi berpendapat bahwa untuk mencari Tuhan, orang tidak perlu pergi jauh-jauh. Ia cukup kembali ke dalam dirinya sendiri.[12] Maksudnya kita harus intropeksi diri memuhasabahi diri kita atas apa yang telah kita lakukan dan kita perbuat dan sejauhmana kita mensyukuri anugerah Allah kepada kita.

  1. Ayat Al-Qur’an Tentang Tasawuf Secara Implisit

Makna implisit adalah makna universal yang disembunyikan oleh bahasa. Konsep makna ini bersifat konotatif (kias) sebagai representasi dari bahasa emotif. Implisit : makna/maksud diajukan tidak secara langsung dan sembunyi-sembunyi.

Ada pun ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi landasan tasawuf secara inplisit dapat dilihat dari tingkatan (maqam) dan keadaan (ahwal) para sufi yaitu :

  1. Tingkatan Zuhud yakni tercantum dalam surah An-Nisaa’ ayat 77 yaitu :

ö@è% ßì»tFtB $u‹÷R‘‰9$# ×@‹Î=s% äotÅzFy$#ur ׎öyz Ç`yJÏj9 4’s+¨?$#

Artinya     :   “Katakanlah kesenangan didunia ini hanya sementara dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa…”[13]

  1. Tingkatan Tawakkal yaitu dalam surah At-Thalak ayat 3 yaitu:

`tBur ö@©.uqtGtƒ ’n?tã «!$# uqßgsù ÿ¼mç7ó¡ym 4

Artinya     :   “Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah mencukupkan (keperluannya).”[14]

  1. Tingkatan Syukur dalam Q.S. Ibrahim ayat 7 yaitu:

ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯Ry‰ƒÎ—V{ (

Artinya     :   “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti akan Kami menambahkan (nikmat) kepadamu.”[15]

  1. Tingkat Sabar berlandaskan Q.S. Al-Baqarah ayat 155 yaitu:

̍Ïe±o0ur šúïΎÉ9»¢Á9$#

Artinya     :  ”Dan berikanlah berita gaembira kepada orang-orang yang sabar.”[16]

  1. Tingkatan Ridha berdasarkan Q.S. Al-Maidah ayat 119 yaitu:

zÓÅ̧‘ ª!$# öNåk÷]tã (#qàÊu‘ur çm÷Ztã 4

Artinya     :  ”Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha terhadap-Nya.” [17]

Demikianlah sebagian ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan para sufi sebagai landasan untuk melaksanakan praktek-praktek kesufiannya. Akan tetapi masih banyak ayat-ayat yang lain yang tidak dicantumkan oleh penulis dalam makalah ini.

  1. Hadist Tentang Tasawuf Secara Eksplisit

Dalam hadis juga banyak dijumpai keterangan-keterangan yang berbicara tentang kehidupan rohaniah manusia. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Artinya     :

”Senantiasa seorang hamba itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Maka tatkala mencintainya, jadilah Aku pendengarnya yang dia pakai untuk mendengar dan lidahnya yang dia pakai untuk berbicara dan tangannya yang dia pakai untuk mengepal dan kakinya yang dia pakai untuk berusaha ; maka dengan-Ku-lah dia mendengar, melihat, berbicara, berpikir, meninju dan berpikir.”[18]

Dari hadis ini dapat dipahami bahwa manusia dan Tuhan dapat bersatu. Diri manusia dapat lebur dalam diri Tuhan yang selanjutnya dikenal dengan istilah fana, yakni fana’-nya makhluk sebagai yang mencintai kepada Tuhan seperti yang dicintainya. Fana adalah menghilangnya daripada pengenalan ghair, baqa adalah pengetahuan Tuhan, yang di dapat oleh seorang yang sudah menghilangnya pengetahuan tentang ghair. Dalam hal ini nafs kita dalam jalan fana (ubudiyyah yakni penghambaan, ibadah) dan Tuhan dalam jalan baqaa (rububiyyah yakni penguasaan).[19]

Artinya :

“Dari Abi Yahya Suhaib bin Sinan RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : sangat mengagumkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya segala keadaannya untuknya baik sekali, dan tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi orang mukmin. Kalau mendapat kenikmatan, ia bersyukur, maka bersyukur itu lebih baik baginya. Dan kalau menderita kesusahan ia sabar, maka kesabaran itu lebih baik baginya.

(HR. Muslim).

  1. Hadist tentang tasawuf secara inplisit

Artinya :

Dari Umar bin Khattab ra., katanya : Aku mendengar Rasul Allah SAW bersabda :”Semua amal perbuatan itu hanyalah dinilai menurut  masing-masing niatnya, dan setiap orang hanyalah menurut apa yang diniatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya itu kepada keridhaan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk keduniaan atau wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu pun diberi penilaian untuk tujuan apa ia hijrah tadi”.

(H.R. Al-Bukhari).

Artinya :

Dari Ibnu Mas’ud ra. Dari Rasul Allah, bersabda : sesungguhnya jujur itu mendorong untuk beramal saleh, dan sesungguhnya amal saleh itu menunjukkan jalan ke surga. Dan seorang yang benar-benar/terus-menerus berbuat jujur (sehingga menjiwai dan berbudi), ditetapkan disisi Allah sebagai ahli jujur. Dan sesungguhnya dusta itu mendorong untuk berbuat keji dan perbuatan keji itu menyampaikan ke neraka. Dan seorang yang benar-benar/terus-menerus berdusta, ditetapkan disisi Allah sebagai ahli dusta.

(Mutafaq Alaih).

Dalam Hadist Qudsi juga dijelaskan yaitu:

Artinya     :  “Tidaklah para hamba yang beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku fardhukan kepadanya. Dan hamba yang beribadah kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunat, maka Aku juga mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, tangan yang ia pakai memegang dan kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, maka Aku akan melindunginya”.[20]

Hadis ini menjelaskan bahwa sesungguhnya seorang hamba mampu meninggalkan syahwat dan tenggelam dalam ketaatan, sehingga ia hanya menggunakan anggota badannya sesuai dengan tujuan penciptaannya, sebagai taufik dan hidayah Allah SWT.

Hadis ini memberi pengertian, bahwa dasar kecintaan Allah kepada hamba-Nya adalah melalui perbuatan-perbuatan yang sunat. Oleh karena itu, selama seorang hamba beribadah kepada-Nya melalui ibadah-ibadah sunat hingga sampai pada tingkatan cinta kepada-Nya, maka pada saat itu dia mampu tenggelam dengan melihat kesucian Allah, tidak melihat sesuatupun kecuali Allah berada di sisinya. Pengalaman semacam ini merupakan derajat terakhir bagi orang-orang yang menuju akhirat dan jalan pertama bagi orang yang ingin sampai kepada Allah. Dengan mengikuti sunah tercapailah ma’rifat, dengan melakukan perbuatan fardhu tercapailah qurbah (dekat dengan Allah) dan dengan selalu melaksanakan perbuatan sunat tercapailah mahabbah Allah.[21]

Dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW,  juga terdapat petunjuk yang menggambarkan bahwa beliau adalah sufi. Nabi Muhammad telah mengasingkan diri ke Gua Hira menjelang datangnya wahyu. Beliau menjauhi pola hidup kebendaan yang pada waktu itu diagung-agungkan oleh orang Arab tengah tenggelam didalamnya, seperti dalam peraktek perdagangan dengan prinsip menghalalkan segala cara.[22]

  1. 5. Kiat/Cara-Cara Menentukan Ayat Ekspelisit dan Impilisit

Meskipun teks-teks Alquran pada mulanya adalah wahyu Tuhan yang transhistoris dan metahistoris, akan tetapi dalam perjalanan selanjutnya ia diturunkan kepada manusia dan untuk menjadi bacaan yang harus dipahami manusia. Kenyataan ini bagaimanapun telah merubah teks-teks suci tersebut menjadi teks-teks yang memasuki ruang dan waktu manusia. Dengan kata lain, Alquran tidak hadir dalam ruang hampa, melainkan berdialog, merespon, dan berinteraksi dengan manusia yang telah eksis berikut segala sistem hidup yang dianut.

Secara historis ayat-ayat Alquran yang berjumlah lebih dari 6000 ayat dan dibagi dalam 114 surat tersebut diturunkan kepada masyarakat Arabia abad ke 7 M, dalam rentang waktu sekitar 23 tahun. Ayat-ayat tersebut tidak diturunkan sekaligus, tetapi melalui proses bertahap atau berangsur, berdasarkan kebutuhan yang relevan dengan peristiwa-peristiwa yang dihadapi Nabi. Seluruh surat dan ayat Alquran diturunkan dalam dua fase sejarah sosial yang berbeda. Dua fase ini dikenal dalam terminologi ‘ulum al-Quran sebagai Makkiyyah dan Madaniyyah. Para ahli tafsir merumuskan Makkiyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan ketika Nabi masih berada di Mekah. Sebagian ulama membaginya berdasarkan aspek waktu, yakni Makkiyyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah, pindah ke Madinah. Sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat yang diterima Nabi ketika berada di Madinah atau sesudah hijrah. Pandangan yang lebih tajam, teks tidak semata-mata dilihat dari soal tempat atau waktu turunnya, tetapi pada kondisi audien, penerima, atau pembacanya.

Teori tentang ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah dengan beragam definisi di atas, pada intinya memperlihatkan bahwa teks-teks Alquran di arahkan pada dua konteks sosial dan audien yang berbeda. Sekaligus berada pada konteks perkembangan risalah yang sedang berjalan guna merespon dan mengatasi problem-problem sosial yang dihadapi. Menurut para ulama teks-teks Makiyyah pada umumnya menekankan tentang ketauhidan (kemahaesaan Tuhan) dan nilai-nilai kemanusian universal seperti kesetaraan manusia, keadilan, kebebasan, pluralitas, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Para ulama Alquran mencirikan pesan risalah periode Makkiyyah, meskipun tidak seluruhnya, dengan (misalnya) penggunaan kata sapa “ya ayyuha al- Naas” (hai manusia); atau “ya Bani Adam” (hai anak Adam); dan “kalla” (tidak begitu). Teks-teks Alquran pada periode ini dapat dikatakan mengandung gagasan-gagasan yang progresif dan revolusioner.

Berbeda dengan di Mekah, audien (masyarakat) di Madinah, adalah masyarakat yang pada umumnya sudah menganut agama langit (samawi) seperti Yahudi dan Nasrani, di samping mereka yang telah beriman kepada Nabi (Muhajirin dan Anshar). Ayat-ayat Madaniyyah pada umumnya berisi ayat-ayat yang menetapkan aturan-aturan yang lebih rinci, lebih spesifik dan partikular yang menyangkut problem-problem aktual yang dihadapi masyarakat Madinah. Beberapa di antaranya tentang hukum-hukum personal, hukum keluarga (famili law), dan aturan-aturan tentang kehidupan bersama dalam masyarakat plural yang telah terbentuk di sana.

Ciri-ciri surah atau ayat Madaniyah dapat dikenali antara lain melalui penyebutan kata sapa “ya ayyuhallazdina amanu” (wahai orang-orang yang beriman); atau ayat yang berbicara tentang orang-orang munafiq; dan lain-lain. Di sini kita melihat dengan jelas bahwa ayat-ayat Madaniyah menunjukkan pesan-pesan kepada masyarakat plural dari sisi keyakinan, aturan-aturan yang menyangkut urusan-urusan dalam kehidupan praktis, hukum-hukum keluarga dan hudud (pidana). Beberapa contoh ayat/surah Madaniyah adalah Q.S. al-Nisa [4]; Q.S al-Nur [24]; Q.S. al-Ahzab [33]; Q.S. al-Thalaq [65]; dan lain-lain. Dalam surah-surah ini Alquran membicarakan secara cukup detail tentang sejumlah isu perempuan seperti perkawinan, perceraian, waris, dan yang berkaitan dengan relasi laki-laki dan perempuan lainnya.

Penyebutan ciri-ciri di atas –Makiyyah maupun Madaniyyah- diakui para ahli tafsir tidak berlaku menyeluruh pada semua ayat melainkan sebagai ciri-ciri umum saja. Hal ini karena ada ayat-ayat yang menggunakan ciri di atas, misalnya ciri ayat makkiyyah dengan penggunaan kata sapa “ya ayyuha al-Nas”, tetapi diturunkan sesudah hijrah (madaniyyah). Boleh jadi hal ini terjadi terkait dengan upaya mengembalikan kesadaran audien tentang pentingnya mendasarkan aturan-aturan sosial pada prinsip-prinsip kemanusiaan universal yang menjadi tujuan agama.

Kenyataan sejarah Alquran ini penting dikemukakan agar dapat dipahami bahwa kitab suci ini berdialog secara dinamis dan akomodatif, bernegosiasi dan melakukan interaksi dengan akal dan psiko-sosial masyarakat Arabia pada abad ke 7 H dan dengan subyek audien yang tidak tunggal.

Pada sisi lain, historisitas teks-teks Alquran juga muncul dalam pengakuan para ulama tentang teori Nasikh-Mansukh. Ia adalah terminologi yang biasa digunakan oleh para ahli tafsir untuk menunjukkan adanya ayat-ayat yang membatalkan (nasikh) dan ayat-ayat yang dibatalkan (mansukh). Teori ini dimunculkan oleh karena adanya ayat-ayat yang dianggap saling bertentangan, berdasarkan pemahaman literalnya, yang tidak mungkin lagi dapat dikompromikan. Jika ini yang terjadi, maka menurut teori ini ayat-ayat yang diturunkan belakangan (nasikh) membatalkan ayat-ayat sebelumnya (mansukh). Sebagai contoh yang biasa  dikemukakan para ulama misalnya adalah persoalan iddah (masa menunggu) bagi perempuan yang bercerai dari suaminya karena meninggal dunia. Salah satu ayat Alquran menunjukkan bahwa perempuan tersebut harus menunggu di rumah selama satu tahun. Sesudah itu dia bisa bergerak bebas, termasuk untuk menikah lagi. (Q.S. al Baqarah,[2:240). Sementara ayat yang lain menyebutkan bahwa masa menunggu (iddah) perempuan tersebut adalah empat bulan sepuluh hari (Q.S. al Baqarah, 234). Para ulama memandang bahwa ayat yang kedua ini (empat bulan sepuluh hari), meskipun secara urutannya dalam mush-haf disebut lebih dahulu,  adalah menghapus (nasikh) terhadap ayat yang kedua (satu tahun). Para ulama menyebut penghapusan ini sebagai “naskh al hukm duna al tilawah” (menghapus hukumnya, bukan menghapus bacaan/tulisannya). (Al Zarkasyi, Al Burhan fi Ulum Alquran, II/37-38).

Teori nasikh-mansukh dengan pengertian pembatalan hukum teks yang satu terhadap teks yang lain, dikritik oleh sebagian ulama. Menurut mereka pengertian nasikh-mansukh seperti ini menghadapi problem serius, karena hal itu berarti mengabaikan keabadian, keutuhan dan ketiadaan kontradiksi antara teks-teks Alquran. Problem lain adalah bagaimana halnya dengan fakta pengumpulan Alquran dalam mushaf yang sudah disepakati para sahabat Nabi dan dinyatakan sebagai utuh?. Mana saja dan berapa banyak ayat-ayat nasikh-mansukh, juga merupakan problem kontroversial di kalangan ulama sendiri. Sejauh seseorang pembaca mampu mengatasi ayat-ayat yang dipandang kontradiktif, maka kemungkinan terjadinya naskh (pembatalan) perlu dipertanyakan.

Pandangan lain berpendirian bahwa apa yang dikesankan sebagai naskh sebenarnya adalah penundaan sementara pemberlakuannya, oleh karena situasi konkrit masyarakat yang dihadapi telah berubah dan berkembang. Menurut pandangan ini kesan adanya dua ayat yang bertentangan dapat diselesaikan melalui cara pandang historisitas teks atau pembacaan kontekstual. Hal ini merupakan pandangan yang wajar saja, mengingat bahwa ayat-ayat Alquran diturunkan secara bertahap, dalam ruang dan waktu sosial yang berbeda, audien yang berbeda-beda dan tingkat kemajuan yang berbeda pula. Jadi adalah wajar bahwa keputusan hukumnya berbeda. Dengan demikian, maka istilah naskh, dengan arti penghapusan atau pembatalan lebih tepat dipandang sebagai penundaan belaka, oleh karena konteks realitas sosial yang tidak memiliki relevansi untuk diimplementasikan.

Terlepas dari kontroversi mengenai teori nasikh-mansukh di atas, kenyataan tersebut menunjukkan dengan jelas, bahwa seluruh ulama mengakui adanya dimensi historisitas teks-teks Alquran. Dengan kata lain teori ini sesungguhnya menunjukkan adanya kehendak perubahan hukum dari satu waktu ke waktu yang lain dan dari satu ruang ke ruang yang lain. Al Zarkasyi, mengatakan bahwa naskh merupakan penjelasan tentang masa keberlakuan hukum. (al Burhan, II : 30). Sepanjang teks-teks Alquran diarahkan kepada manusia yang hidup dalam sejarah, maka ia terlibat dalam dinamika sosial.

Selain teori naskh, para ulama menyatakan bahwa ayat-ayat Alquran tidak diturunkan begitu saja, tetapi mempunyai Asbab al Nuzul, atau latarbelakang peristiwanya masing-masing. Kenyataan ini semakin mengukuhkan bahwa ayat-ayat Alquran menjawab peristiwa-peristiwa temporal yang muncul pada saat itu. Para ulama juga telah menyatakan bahwa kebertahapan Alquran yang berlangsung selama sekitar 23 tahun mengandung arti bahwa surat-surat atau ayat-ayat dalam Alquran berkaitan dengan serangkai peristiwa-peristiwa yang bersifat temporal. Pengetahuan tentang asbab an-nuzul adalah sesuatu yang niscaya bagi para pengkaji Alquran, sebab tanpa ini mereka bisa terjebak pada kesalahpahaman, kesulitan-kesulitan dan kontradiksi-kontradiksi dan dapat mengakibatkan konflik.

Perlu segera dijelaskan bahwa historisitas ayat-ayat Alquran di atas tidaklah harus dipahami bahwa Alquran hanyalah terbatas untuk komunitas Arabia pada saat ia diturunkan, dan karena itu tidak berlaku dan bersifat universal. Sebab pada setiap ayat selalu tersedia, baik secara eksplisit maupun implisit, alasan dan maksud di balik solusi dan aturan-aturannya, yang dari situ dapat ditarik prinsip-prinsip umumnya. Di sini seorang pembaca Alquran dituntut untuk bisa menggali tujuan moral dan nilai-nilai universalitasnya.

BAB IV

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Dari uraian di atas maka penulis dapat menarik berbagai poin kesimpulan yang merupakan intisari dari pembahasan ini, yaitu :

  1. Al-Qur’an merupakan dasar-dasar para sufi dalam bertasawuf kedudukannya sebagai ilmu tentang tingkatan  (maqam) dan keadaan (ahwal).
  2. Selain Al-Qur’an dan Hadis juga merupakan landasan dalam tasawuf sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah di Gua Hira yakni tafakkur, beribadah, dan hidup sebagai seorang zahid, Beliau hidup sangat sederhana, terkadang mengenakan pakaian tambalan, tidak makan dan minum kecuali yang halal, dan setiap malam senantiasa beribadah kepada Allah SWT.
  3. Dikalangan para sahabat juga banyak yang mempraktekkan tasawuf sebagaimana yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW.
  4. Untuk menjadi seorang sufi kita harus bisa meninggalkan segala yang menyangkut dengan sifat kebendaan dan senantiasa bertaubat serta mendekatkan diri kepada-Nya untuk mencapai ridha Allah SWT.


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………….

BAB I

PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………………

BAB II

PERMASALAHAN………………………………………………………………………………………

BAB III

PEMBAHASAN…………………………………………………………………………………………..

  1. Pengertian Tasawuf ……………………………………………………………………………..
  2. Dasar-dasar Qur’ani Tentang Ilmu Tasawuf………………………………………………
  1. Ayat Al-Qur’an tentang Tasawuf secara eksplisit………………………………….
  2. Ayat Al-Qur’an tentang Tasawuf secara implisit……………………………………
  3. Dasar-dasar Hadist Tentang Ilmu Tasawuf
    1. Hadist tentang Tasawuf secara eksplisit………………………………………………
    2. Hadist tentang Tasawuf secara implisit………………………………………………..
    3. Kiat-kiat menentukan ayat eksplisit dan implisit…………………………………

BAB IV

PENUTUP

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………………..
  2. Kritik dan Saran …………………………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihon dan Mukhtar Solihin. Ilmu Tasawuf, Bandung : Pustaka Setia, 2006.

Departemen Agama RI.  Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung : Diponegoro,

2005.

Rahmat, Jalaluddin. Meraih Cinta Ilahi ; Pencerahan Sufistik, Bandung:Remaja

Rosdakarya, 2001.

Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad Syatha, Missi Suci Para Sufi, Yogyakarta : Mitra

Pustaka, 2002.

Shayk Ibrahim Gazuri Ilahi, Anal Haqq, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996.

Shihab,  Quraish. Tafsir al-Misbah, Jakarta : Lentera Hati, 2001.


[1] Rosihon Anwar  dan Mukhtar Solihin, Ilmu Tasawuf, (Bandung : Pustaka Setia, 2006), hlm.16.

[2] Copyright © 2003 Lampung Post. All rights reserved. Minggu, 24 Februari 2008

[3] Ibid., hlm. 122.

[4] Q.S Al-Maidah: 54

[5] Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2001), hlm. 121.

[6] Q.S At-Tahrim: 8

[7] Jalaluddin Rahmat, Meraih Cinta Ilahi ; Pencerahan Sufistik, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 8.

[8] Q.S Al-Baqarah: 115

[9] Rosihon Anwar dan Mukhtar Solihin, Op.cit., hlm. 19.

[10] Q.S Al-Baqarah: 186

[11] Q.S Qaf : 16

[12] Rosihin Anwar dan Mukhtar Solihin, Op.cit., hlm. 21.

[13] Q.S An-Nisa’ : 77

[14] Q.S At-Thalak : 3

[15] Q.S Ibrahim : 7

[16] Q.S Al-Baqarah : 155

[17] Q.S Al-Maidah : 119

[18] Rosihon Anwar dan Mukhtar Solihin, Op.cit., hlm. 26.

[19] Shayk Ibrahim Gazuri Ilahi, Anal Haqq, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 152.

[20] Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad Syatha, Missi Suci Para Sufi, (Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2002), hlm. 78.

[21] Ibid., hlm. 80.

[22] Rosihon Anwar  dan Mukhtar Solihin, Op.cit., hlm. 26.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: